Semangat kreativitas dan pemberdayaan ekonomi keluarga terasa begitu kuat dalam pelaksanaan “Persit Bisa” yang digelar di Balai Kartini. Kegiatan ini menjadi wadah bagi anggota Persit untuk menampilkan berbagai produk unggulan daerah, salah satunya kerajinan anyaman bambu khas Kerinci yang berhasil menarik perhatian para pengunjung.
Pelaksanaan kegiatan di hari
kedua ini berlangsung dengan antusiasme yang luar biasa. Sejak pagi hari,
ibu-ibu Persit telah berkumpul dengan raut wajah ceria dan semangat belajar
yang membara. Suara decak kagum sesekali terdengar saat Ny. Dela Doni Afrianto
menjelaskan tentang anyaman bamboo yang dibawanya. mulai dari membelah,
menyerut, hingga menyilangkan helaian-helaian bambu tipis menjadi sebuah pola
simetris yang indah.
Kali ini Booth anyaman bambu ini tampil memikat dengan nuansa alami dan sentuhan modern. Tidak hanya menampilkan nilai estetika, setiap produk juga membawa cerita tentang budaya, ketekunan, dan kreativitas para pengrajin lokal. Anyaman bambu kini tidak lagi dipandang sebagai kerajinan tradisional biasa. Dengan inovasi desain dan pengemasan modern, produk bambu mampu bersaing di pasar nasional. Tren penggunaan produk ramah lingkungan juga membuat kerajinan bambu semakin diminati masyarakat.
Ketua Persit KCK Cabang XXV Dim 0417/Kerinci dalam arahannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari peran aktif Persit dalam mendukung tugas suami sekaligus mencetak figur perempuan yang mandiri. PERSIT BISA bukan hanya tentang bagaimana kita menghasilkan produk yang bagus, tetapi juga sebagai jalan untuk mengembangkan sayap kreatifitas dengan berani belajar dan bertukar fikiran dengan pelaku UMKM dari daerah lainnya. Kami sangat berharap, Event ini bisa menjadi cikal bakal lahirnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lainnya yang digerakkan langsung oleh ibu-ibu Persit Cabang XXV Kerinci," ungkapnya dengan penuh optimisme.
Pelaksanaan hari kedua PERSIT
BISA, Persit KCK Cabang XXV Dim 0417/Kerinci sukses membuktikan bahwa dengan
pembinaan yang tepat sasaran, perempuan dapat berdiri di garda terdepan dalam
menjaga warisan budaya bangsa, sekaligus menjadi motor penggerak kesejahteraan
keluarga. Anyaman bambu Kerinci kini tidak hanya menjadi saksi bisu tradisi masa
lalu, melainkan telah dianyam kembali dengan untaian harapan dan kemandirian
yang menginspirasi.







